Prensa en Indonesia resalta celebración del 8vo. Congreso del PCC y confianza de Raúl en el relevo generacional en Cuba

Yakarta, 16 de abril- El diario en idioma bahasa, Republik Merdeka, publicó un artículo resaltando la celebración del 8vo. Congreso del PCC y catalogando como paso histórico la ratificación del GE Raúl Castro de dar por concluída su tarea al frente del Partido, así como  su confianza en la continuidad y relevo generacional en Cuba.

Al propio tiempo el texto destaca que el cónclave tiene lugar en momentos en que la isla enfrenta muchos desafíos, acotando que la economía cubana se contrajo en un 11 por ciento en el 2020, por los efectos de la pandemia, las cada vez más recrudecidas sanciones estadounidenses y una reducción de la ayuda de la amiga nación, Venezuela. 

El artículo pondera que aunque Raúl Castro había anunciado su retira de la vida política desde hace algun tiempo, analistas consideran que continuará siendo la figura más influyente en la isla, dada su experiencia y guía durante tantos años en la nación caribeña y por tratarse de una figura que impacta en todo el pueblo.

La publicación hace alusión a consideraciones de varios analistas, citando: "Resulta imposible imaginar a Raúl Castro retirándose por completo de la vida política cubana ... Siempre estará ahí". “A partir de ahora, la política cubana entra en una nueva etapa. Depende de esta nueva generación levantar la antorcha y demostrar su vigencia" … "Este es un paso en el proceso de transición generacional entre quienes vivieron la Revolución de 1959 y las nuevas generaciones".

Al finalizar, el texto hace alusión a lo expresado por Fabio Fernández, profesor de historia de la Universidad de La Habana,  quien en el marco de la celebración del actual Congreso, destacó que  era importante que el Partido avance, cumpla con las reformas económicas prometidas y emprenda cambios, sin salirse de su sistema socialista. 

Temas estratégicos para el progreso de la nación como el modelo de gestión económica, la política inversionista, la ciencia, la tecnología y la innovación y sus impactos en la sociedad, así como la política social, entre otros, fueron debatidos  por los delegados en la Comisión 1, presidida por el primer ministro, Manuel Marrero Cruz, en la cual también se examinaron las propuestas de actualización de los Lineamientos para el periodo 2021-2026, y de la Conceptualización del Modelo económico y social cubano de desarrollo socialista.

 Embajada de Cuba en Indonesia.

Artículo completo en: https://dunia.rmol.id/read/2021/04/16/483834/kuba-bersiap-jalani-kehidupan-tanpa-klan-castro-pengamat-waktunya-lakukan-reformasi

 

Kuba Bersiap Jalani Kehidupan Tanpa Klan Castro, Pengamat: Waktunya Lakukan Reformasi

Laporan: Reni Erina

Jumat, 16 April 2021, 14:17 WIB

Raul Castro bersama Miguel Diaz-Canel/Net

https://dashboard.rmol.id/assets/images/logo/07461304122020_15x.png Lebih dari 60 tahun sejak Fidel Castro memasuki Havana untuk memimpin revolusi 1959 dan menggulingkan diktator Fulgencio Batista yang didukung AS, Kuba sekarang bersiap menjalani kehidupan publik tanpa anggota klan Castro.

Raul Castro, adik laki-laki Fidel Castro, mengambil langkah bersejarah; ia secara resmi mengundurkan diri sebagai kepala Partai Komunis Kuba, posisi paling kuat di pulau itu. Menimbulkan ekspektasi akan perubahan signifikan di antara rakyat Kuba.

Pengunduran diri Raul dibahas dalam kongres pekan ini, yang berlangsung pada 16-19 April. Pengunduran diri Castro terjadi saat Kuba, salah satu negara komunis terakhir di dunia, menghadapi banyak tantangan.

Ekonominya menyusut 11 persen pada tahun 2020 karena pandemi, dan negara itu bergulat dengan sanksi AS yang diperketat dan penurunan bantuan dari sekutunya, Venezuela. Pemerintah kekurangan uang untuk mengimpor makanan dan obat-obatan, yang berarti antrean tanpa akhir di luar toko ketika makanan tersedia, dan satu kali makan sehari untuk beberapa keluarga.

Kongres kedelapan Partai Komunis itu akan mengesahkan Presiden Miguel Díaz-Canel sebagai sekretaris jenderal partai berikutnya dan menetapkan pedoman kebijakan.

Raul Castro dan almarhum saudara laki-lakinya, Fidel Castro, telah berkuasa sejak revolusi 1959.

Sejak  2018 Raul mengharapkan Díaz-Canel bisa menggantikannya setelah pensiun pada 2021.
Sejak itu pula, transisi politik Kuba telah terlihat.

Díaz-Canel, saat ini berusia 60 tahun,  mantan menteri pendidikan, mewakili generasi baru yang tumbuh dewasa setelah revolusi.

Meskipun mundur, banyak analis percaya Castro, yang berusia 90 tahun pada bulan Juni, akan terus menjadi tokoh paling berpengaruh di pulau itu sampai kematiannya.

Spesialis Kuba dari Institute for Higher Learning on Latin America (IHEAL) di Paris, Stephane Witkowski mengatakan kepada FRANCE 24, bahwa "Kepergian Raul Castro dari kehidupan politik telah diperkirakan sejak lama."

"Ini merupakan langkah dalam proses generasi transisi antara mereka yang hidup melalui revolusi 1959 dan generasi baru," ujarnya.

"Memang, tanggalnya pasti tidak dipilih secara acak," kata spesialis itu. Menyebut bahwa Raul Castro adalah sosok yang berdampak pada seluruh rakyat.

"Mulai sekarang, politik Kuba memasuki fase baru. Terserah generasi baru ini untuk mengangkat obor dan membuktikan keabsahannya,"  katanya.

Mantan diplomat Carlos Alzugaray, mengatakan, merasa tidak mungkin membayangkan Castro benar-benar menarik diri dari kehidupan politik Kuba.

"Dia akan selalu ada di sana," kata Alzugaray kepada AFP.
 

"Itu bisa menjadi model yang mirip dengan apa yang terjadi di China ketika Deng Xiaoping tidak lagi memiliki posisi tetapi dia masih hidup dan karenanya dia harus berkonsultasi tentang segala hal. Dia punya kata terakhir," ujarnya.

Arturo López-Levy, seorang profesor di Holy Names University di California, mengatakan, waktunya bagi generasi baru untuk menunjukkan kinerja yang lebih baik, terutama bagaimana mengendalikan pandemi ini. Reformasi ekonomi akan mendapatkan daya tarik setelah pandemi terkendali, menurutnya.

"Sekarang mereka akan dipaksa untuk melakukan reformasi penting, karena legitimasi mereka tidak datang dari latar belakang yang revolusioner, tetapi dari kemampuan untuk menunjukkan kinerja yang lebih baik,”  katanya.

Fabio Fernández, seorang profesor sejarah di Universitas Havana, yang sering dikutip di surat kabar Partai Komunis Granma, mengatakan penting bagi partai untuk bergerak maju, memenuhi reformasi ekonomi yang dijanjikannya lebih dari satu dekade lalu, dan membuat perubahan politik tanpa meninggalkan sistem sosialisnya.

“Konsep baru sosialisme Kuba adalah apa yang perlu kita adopsi karena yang lama tidak lagi berfungsi,” katanya. https://dashboard.rmol.id/assets/images/logo/10441704062019_akhir.png

EDITOR: RENI ERINA

Categoría
Bloqueo
Cooperación
Eventos
Relaciones Bilaterales
RSS Minrex