Indonesia reclama cese del bloqueo de EE.UU en Encuentro Internacional de Solidaridad con Cuba

Yakarta, 2 de mayo- El diario en idioma bahasa, Republica Independiente, publicó un artículo resaltando la participación de amigos indonesios en el Encuentro virtual Internacional de Solidaridad con Cuba, organizado por el Instituto Cubano de Amistad con los Pueblos (ICAP) y la Central de Trabajadores de Cuba (CTC), del 30 de abril al 1 de mayo en conmemoración del Día Internacional del Trabajo.

El Periodista indonesio y presidente de la Red en Indonesia de Medios Cibernéticos, Teguh Santosa,  al iniciar su mensaje trasladó felicitaciones al pueblo y Gobierno cubanos por el Día Internacional del Trabajo y por el desempeño que está desplegando en la batalla contra la covid 19. "Desde Indonesia, envío un mensaje al pueblo cubano que considera que la clase trabajadora es un elemento importante en la civilización y la paz mundial".

Tras consignar que en el actual contexto, luego más de un año en que la comunidad internacional enfrenta la pandemia de la Covid-19, se abren oportunidades para que la humanidad incremente su capacidad y solidaridad. “…en esta era de Pandemia, el Gobierno y el pueblo cubanos están trabajando arduamente para enfrentar la enfermedad y fortalecer los cimientos políticos, con gran éxito”.

No obstante, acotó, que aún en medio de la actual Pandemia, el mundo  está siendo testigo de la arrogancia de ciertas partes que se sienten con el poder y el derecho de imponerlo sobre aquellos que consideran débiles."Por eso, con motivo de la conmemoración del Día Internacional del Trabajo, junto con el pueblo cubano, exijo al Gobierno de Estados Unidos que cese el criminal e injustificado bloqueo económico, comercial y financiero contra Cuba"., expresó Teguh.

Asimismo, recogió en su mensaje: “es hora en que el Gobierno de los Estados Unidos, cambie su mentalidad y avance para desarrollar relaciones positivas con el resto del mundo, incluida Cuba.

En la última parte,  el artículo incluye un resumen sobre la dinámica que han tenido durante los últimos años los vínculos cubano-estadounidenses, destacando la mejoría experimentada con el restablecimiento de las relaciones diplomáticas durante la administración Obama, su visita a Cuba, convirtiéndose en el primer presidente norteamericano en visitar la isla en 8 décadas anteriores y, acontando  que sólo un año después,  el deterioro de los vínculos bajo el presidente Donald Trump y el abrupto cambio de la política de Estados Unidos hacia Cuba.

Teguh Santosa, también profesor de RR.II en la Universidad Estatal Islámica de Syarif Hidayatullah de Yakarta ha participado en varios eventos internacionales, a saber: Intervino en la IV Comisión de la ONU sobre el conflicto en el Sahara Occidental, Congreso del Partido Comunista Chino, cofundó los Foros de Periodistas de la Franja y la Ruta de la Seda, Conferencia Mundial de Periodistas en Seúl sobre las perspectivas de paz en la Península Coreana, cubrió las guerras en Afganistán e Irak y las elecciones generales en Micronesia (2009), Marruecos (2011) y Venezuela (2018).

Embajada de Cuba en Indonesia

Ver artículo completo:

https://dunia.rmol.id/read/2021/05/01/486215/may-day-wartawan-indonesia-minta-amerika-serikat-hentikan-blokade-untuk-kuba

May Day, Wartawan Indonesia Minta Amerika Serikat Hentikan Blokade Untuk Kuba

Wartawan Indonesia, Teguh Santosa/Repro

https://dashboard.rmol.id/assets/images/logo/07461304122020_15x.png Pemerintah Amerika Serikat diminta  mengakhiri blokade ekonomi, perdagangan, dan keuangan yang diterapkan kepada Kuba.
Pemerintahan Amerika Serikat yang kini dikendalikan Presiden Joe Biden juga disarankan untuk mengubah mentalitas dan perspektif dalam berhubungan dengan negara-negara lain di dunia, termasuk Kuba.

Demikian antara lain disampaikan wartawan dari Indonesia, Teguh Santosa, yang ikut memberikan pandangan dalam Forum internasional bertema “Solidaritas untuk Mengakhiri Blokade Kuba” yang diselenggarakan Instituto Cubano de Amistad con los Pueblos (ICAP) dan Central de Trabajadores de Cuba (CTC), Sabtu pagi waktu Indonesia (1/5) atau Jumat malam waktu Havana, Kuba (30/4).

Forum tersebut digelar secara hybrid selama dua hari, dari tanggal 30 April sampai 1 Mei dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day. Puluhan pembicara dari berbagai belahan dunia menyampaikan pandangannya dalam forum yang dibuka oleh Presiden ICAP Fernando Gonzalez dan Sekjen CTC Ulises Guilarte de Nacimiento.

“Dari Indonesia saya mengirimkan pesan kepada rakyat Kuba yang percaya bahwa kelas pekerja adalah elemen penting dalam peradaban dan perdamaian dunia,” ujar Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) ini mengawali pesan May Day-nya.

Mantan Ketua Bidang Luar Negeri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) itu selanjutnya mengatakan, sudah lebih dari setahun masyarakat dunia menghadapi pandemi Covid-19 sebagai situasi yang tidak unprecedented atau tidak pernah dialami sebelumnya.

“Namun di sisi lain, situasi ini membuka kesempatan pada manusia untuk meningkatkan kapasitas dan solidaritas,” ujarnya mantan anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat itu.

 

Teguh yang juga pernah menjadi Ketua Bidang Luar Negeri PP Pemuda Muhammadiyah menambahkan, di era pandemi ini, pemerintah Kuba dan rakyat Kuba bekerja keras menghadapi pandemi Covid-19 dan memperkuat pondasi politik. Sejauh ini kerja keras itu cukup berhasil.

Hal lain yang dikatakan Teguh, di tengah pandemi Covid-19, masyarakat dunia masih menyaksikan arogansi pihak-pihak tertentu yang merasa memiliki kekuasaan dan memiliki hak untuk memaksakan kekuasaan mereka kepada pihak yang mereka anggap lemah.

“Karena hal itulah, dalam kesempatan peringatan Hari Buruh Internasional ini, saya bersama rakyat Kuba meminta pemerintah Amerika Serikat menghentikan blokade kepada Kuba,” sambung Teguh.

Dinamika Hubungan Kuba-AS

Hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba sempat mengalami perbaikan di era Presiden Barack Obama. Pada bulan Desember 2014, Presiden Barack Obama dan Presiden Raul Castro mengumumkan tekad kedua negara menormalisasi hubungan yang memburuk sejak Revolusi 1959 dan terputus setelah insiden Teluk Babi tahun 1961.

Di bulan Juli 2015, Amerika Serikat membuka kembali Kedutaan Besar mereka di Havana, begitu juga Kuba membuka kembali Kedutaan Besar mereka di Washington DC.

Puncak dari upaya perbaikan hubungan itu adalah kunjungan Obama dan keluarga ke Kuba pada Maret 2016. Obama menjadi Presiden AS pertama yang berkunjung ke Kuba dalam 88 tahun terakhir sebelumnya.   

Setahun setelah kunjungan Obama ke Kuba itu, Presiden Donald Trump yang menggantikan Obama mengubah kembali kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Kuba.
Teguh dan Isu Internasional

Teguh Santosa yang juga dosen hubungan internasional di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, dikenal sebagai wartawan yang terlibat dalam berbagai isu internasional dan kerap memberikan pandangan mengenai isu-isu tersebut.

Ia pernah meliput perang yang berkecamuk di Afghanistan tahun 2001 dan perang di Irak tahun 2003. Sebelum pandemi Covid-19, ia juga kerap mengunjungi Korea Utara dan Korea Selatan untuk mengikuti dari dekat konflik di Semenanjung Korea. Di tahun 2019, Teguh diundang berbicara dalam konferensi wartawan dunia di Seoul mengenai prospek perdamaian Korea.

Teguh juga pernah diundang Komisi IV PBB di New York untuk berbicara mengenai sengketa Sahara Barat pada tahun 2011 dan 2012. Di tahun 2014, Teguh diundang berbicara di Marrakesh mengenai isu HAM.

Di tahun 2017, alumni University of Hawaii at Manoa (UHM) itu diundang menghadiri Kongres Partai Komunis China di Beijing dan ikut membentuk Belt and Road Journalist Forums (BRJF) bersama 30 perwakilan wartawan dari seluruh dunia.

Teguh juga telah terlibat memantau pemilihan umum di tiga negara, yakni di Mikronesia (2009), Maroko (2011), dan Venezuela (2018).

 

 

 

Categoría
Bloqueo
Comunidad cubana
Cooperación
Eventos
Multilaterales
Relaciones Bilaterales
Situaciones Excepcionales
Solidaridad
RSS Minrex